DREAM CATCHER
Hujan turun begitu saja di sekolah menengah
pertamaku ini,hari ini aku berjalan di lorong sekolah menuju kantin bersama dua
orang temanku nadia dan zera. Mereka adalah dua sahabatku sejak aku duduk di
bangku kelas 7 dan kami sekarang sudah berada di kelas 8.
“pian,waktu itu kan kamu menanyakan tentang
hadiah ulang tahun yang paling menarik kan ?” tanya nadia padaku
“hmm,tapi aku sudah menenmukannya” jawabku
padaa temanku yang bermata sipit dan berwajah bulat ini yang sedang menemaniku
berjalan.
“apa itu?” sambung zera bertanya
“coba pikirkan,apa itu? Kalau sudah
menemukan jawabannya aku di perpus” aku berjalan mendahului mereka
berdua.mereka sungguh benar benar lamban.. akupun duduk di bangku perpus dan
membaca buku horor kesukaanku goosebumps edisi bergaya sebelum mati. Tiba tiba
ada seorang pria yang duduk di sebelahku aku menoleh ke arahnya
“baca saja bukumu,jangan memandangiku
seperti itu” kata lian padaku.
Aku rasa jantungku seperti terisi bom yang
meledak di dalamnya,keringat mengalir turun begitu saja dari wajahku. Padangan
ku tidak fokos lagi pada buku yang sedang ku pegang. Aku hanya merasakan hal
itu sekarang. Kuberanikan diri berbicara padanya
“lian,ini
kan jam pelajaran. Kenapa kamu ada disini?” tanyaku padanya yang sedang
memandangi serius bukunya
“kalau aku disini kenapa km juga disini ?” diapun berbalik tanya padaku
“kalau aku disini kenapa km juga disini ?” diapun berbalik tanya padaku
“aku hanya malas dikelas tidak ada
peajaran,masih baik kan kesini daripada teman temanku berbalanja di kantin”
ucapku pada lian dengan nadaku yang sedikit menyingung
“tapi kamu tidak ada bedanya dengan mereka
sama sama berada di kelas bodoh” diapun langsung pergi meninggalkanku.
“lian?” teriakku
“kenapa?” jawabnya ketus dari pintu perpus
dan ia pun langsung menoleh
“selamat ulang tahun” tanpa reaksi apapun
dia langsung pergi begitu saja seperti yang sering ia lakukan.bahkan ia pergi
tanpa terucap rasa terimakasih.aku kembali ke kelasku dengan perasaan sedih
tiba tiba di dalam kelas begitu ramai membicarakan ku ternyata terlihat zera
dan nadia yang sedang membaca buku harianku
“apa yang kalian lakukan?” teriakku dari
pintu kelasku ku langkahkan kakiku menuju nadia dan zera
“ternyata? Kamu suka sam lian? Jadi kado
ulang tahun itu untuk dia?” tanya nadia padaku
“darimana kamu dapatkan buku ini” aku pun berbalik tanya
“kamu menaruhnya di sembarang,sudah tau barang pribadi. Kita menemukannya di loker mejamu” jawab zera
“darimana kamu dapatkan buku ini” aku pun berbalik tanya
“kamu menaruhnya di sembarang,sudah tau barang pribadi. Kita menemukannya di loker mejamu” jawab zera
“ nadia,aku mohon jangan beri tau kakakmu..
aku tau kakakmu sangat menyukai lian”
“aku tidak akan ikut campur dalam masalah
ini” kata nadia
“terimakasih”
Aku duduk untuk menenangkan diriku “pi,lalu
apa isi kado untuk lian?” tanya zera penasaran
“tidak ada” jawabku
Aku berniat untuk memberikan kado ulang
tahun yang sudah kubeli untuknya. Tapi aku takut dia tidak mau menerimanya.
tapi aku berusaha untuk menghilangkan pikiran yang seperti itu. Tiba tiba dia
terlintas di depan kelasku. Aku berlari ke arahnya
“lian,tunggu” diapun menghentikan
langkahnya
“Sesulit itukah untukmu mengucapkan
terimakasih. Apa kamu tau apa yang lebih penting daripada uang? Ketulusan .
setidaknya aku memberitahumu agar kamu tau bagaimana prinsip hidup”
“aku tidak memintamu untuk mengucapkan
selamat ulang tahun untukku kan!” suarnya terlihat jelas kudengar
“aku mengerti,ini untukmu” dia menerima
hadiah itu dan itu membuatku senang
“terimakaih,tapi aku tidak membutuhkannya”
dia mengembalikannya padaku dan ia pergi meninggalkanku apa hanya itu yang bisa
ia lakukan. Mengatakan hal yang tidak aku suka lalu ia pergi tanpa mengucapkan
kata maaf
“aku gak nyangka ya!! Ternyata anda
membohongi saya selama ini” ternyata kak Dera menghampiriku karna mungkin dia
tau aku menyukai seseorang yang dia suka diam diam. Aku memang salah tapi aku
sudah mencoba untuk berhenti tapi aku tidak bisa
“tidak peduli apa yang ada dipikiran kakak.
Walaupun ini tidak mudah tapi aku berusaha untukk berhenti menyukai dia” aku
pergi meninggalkannya dan tidak semua orang melihat ke arahku.. karna saat ini aku
tidak berfikir tentang rasa malu aku hanya bisa berfikir saat ini kenapa aku menyukai seseorang
egois,sombong seperti dia.aku berjalankembali ke kelasku
“pian sudah jangan menangis” dua sahabatku
ini menghiburku
“berhentilah menyukai seseorang yang tidak menyukaimu karna selama kamu menyukainya kamu akan berada di jalan penderitaan” ucap zera
“berhentilah menyukai seseorang yang tidak menyukaimu karna selama kamu menyukainya kamu akan berada di jalan penderitaan” ucap zera
“benar,seharusnya jika kamu menyukai
seseorang jangan terlalu berharap dia juga menyukaimu. Berharaplah kamu bisa
melihatnya setiap saat “ sambung nadia
“aku tidak menangis aku hanya merasa
tertekan. Apalagi besok kan aku akan pindah jadi akan lebih mudah kan” kataku
“ apa kamu harus ikut ayahmu pergi ke luar
kota tidak bisakah kamu pindah setelah kamu lulus?” tanya nadia
“ini karna pekerjaan ayahku,jadi aku tidak
bisa menghentikannya”
“lalu akan kamu apakan hadiah ualang tahun
itu” ucap zera
“aku tidak tau”
Bel pulang berdering tanda bahwa pelajaran
hari ini sudah berakhir.. ini hari terakhir aku berada di sekolah ini. Aku
berjalan di lorong depan kelasku
“Maaf tadi aku membuatmu malu” kata
seseorang di belakangku aku menoleh begitu saja karna aku tau itu adalah suara
seseorang yang ku kenal
“aku dengar kamu akan pindah?” tanya lian
padaku sambil menunjukkan senyumnya
“benar,tidakkah kamu merasa bersedih” aku
berbalik tersenyum pada lian
“hmm,karna kamu sudah menjadi temanku dari
kecil. aku merasah sedih sekali” dia terlihat selalu tersenyum hari ini
“kamu kembali seperti dulu”ucapku
“lian,tidak bisakah kamu teriman ini
sebagai hadiah ulang tahun terakhir?” lanjutku
“baiklah,karna kamu akan segera pergi. Aku
akan menerimanya” jawabnya sambil menjulurkan tangannya
“ ada saat diamana kamu terlihat dingin dan
tidak”
“karna aku takut kamu tau kalau aku
menyukaimu” aku tidak percaya jika hal seperti itu akan terjadi seperti mimpiku
semalam. Apakah ini mimpi? Aku benar benar mendengar suaru lian dengan jelas
“apa kamu tau apa isi hadiah itu?” aku
membuatnya penasaran
“apa?”
“Dream catcher,untuk membuat mimpimu jadi
indah seperti mimpiku hari ini” jelasku
“benarkah?”
“sungguh,hanya mimpi indah saja yang akan ada
di dalamnya” jelaku
“baiklah, aku akan menggantungnya di
jendela kamarku!”
Kamipun berjalan di lorong ini dengan dream
catcher dan kami kembali ke tempat kami berada seperti dulu masa kecil kami
berteman hingga akhir
*selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar